Temukan, Hope! (pada Dirimu)


Kebetulan hari ini adalah hari tersial pada keluarga saya. Setelah Kedua orang tua saya yang berniat membeli mobil, tidak jadi.Karena gagal menjual sapi(well, ayah saya memang memelihara Sapi, lebih tepatnya sapi brahman, hehehe). Serta kondisi saya yang besok harus mengikuti UTS. Lengkap sudah hari ini Untuk menjatuhkan Mood saya.

Gak Mood LAGi ahh. Namun secerca sinar muncul sore tadi. Acara Kick andy yang bertema ” Man jadda, wajadda”, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh maka akan ada jalan. Yang paling membuat saya bersemangat adalah Melihat perjuangan pak Hasanin Juani, yang hanya bermodalkan semangat. Namun percaya akan apa yang akan didapatkan serta tidak pernah meremehkan mimpinya, dan terus berusaha meraih cita-citannya,

Vonis yang tak perlu tentang apa yang kita lakukan justru akan menjatuhkan diri kita sendiri. justru ketika melakukannya dengan Biasa, tak perlulah muluk-muluk malah akan menghasilkan sesuatu yang diluar dugaan. Yang pasti yang biasa itu harus bermodalkan kemauan dan keinginan. Ibarat Pohon yang kita anggap biasa, namun jika ditilik lebih dalam, tidak sesederhana dari yang kita pikirkan.

Ini cerita selengkapnya

kick andySiapa yang tak kenal dengan Band Wali. Band yang personilnya terdiri dari Farhan ZM (Faank) sebagai sebagai lead vocal, dengan gitarisnya Aan Kurnia alias Apoy  dan Ihsan Bustomi alias Tomi sebagai drummerdan pemain keyboard Ovie Hamzah Shopi – ini terkenal dengan lagu-lagunya yang mengusung musik pop dengan bumbu aroma melayu. Di balik kesuksesan band yang terbentuk pada tahun 1999 ini, dilatar belakangi oleh para personilnya yang berasal dari lulusan pesantren. Semua anggota Band Wali adalah alumni dari berbagai pesantren di Indonesia. Maka tidak ayal, pendidikan pesantren yang mereka emban kerap mempengaruhi musik dan tingkah laku para personilnya. Bahkan kisah sukses hidup mereka dari santri menjadi band terkenal kemudian difilmkan melalui sebuah film yang berjudul “Baik-Baik Sayang”. Hingga kini Band Wali telah meraih berbagai penghargaan, sejak album pertama mereka diluncurkan di tahun 2008 lalu.

Lahir dan besar di lingkungan pondok pesantren, tidak menjadikan seseorang kyai bernama Hasanain Juaini ter-kooptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ayahnya almarhum adalah pendiri Pondok Pesantren Nurul Haramain, pada tahun 1952 di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok. Presantren yang pada awalnya dibangun dengan cara tradisional, oleh Hasanain kemudian dikembangkan dengan cara yang lebih modern. Hasanain mampu merubah paradigma nilai ke-agamaan yang kental dari balik tembok pondok pesantren, menjadi lembaga pendidikan yang berbasis lingkungan dan teknologi. Jika sebelumnya di tahun 1992, Pondok Pesantren Nurul Haramain hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki,

berpedoman amanat yang diberikan oleh sang ibunda, pada tahun 2006 Hasanain membangun Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri. Dalam mendidik murid-muridnya, Hasanain mengaku tidak membeda-bedakan antara santri putra dan putri. Selain sekitar 500 santri putra, saat ini jumlah semua santriwati Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (Ma) sebanyak 554 orang. Hasanain tak hanya melakukan sosialisasi dan advokasi tentang kesetaraan gender dan pengembangan kreativitas, di pondok pesantrennya, ia juga mengajarkan tentang sikap saling menghargai dalam perbedaan. Hasanain yang sejak 4 tahun lalu dipercaya menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, inipun menganggap kearifan terhadap lingkungan sudah diatur dalam Al Quran.

Dari dorongan itulah, Hasanain tergerak untuk menyosialisasikan semangat cinta lingkungan, yang ia tularkan kepada santri dan warga sekitar pesantren. Salah satu usahnya, untuk mengembalikan fungsi alam, pada tahun 2003, ia membeli lahan tandus seluas 36 hektar dan di sulapnya menjadi kawasan konservasi hutan yang ia namai Desa Madani. Tak heran, bila penghargaan Ashoka International, ia dapatkan karena Hasanain telah membuat terobosan inovasi dalam persoalan sosial, pluralisme dan perspektif gender di pondok pesantren dan kehidupan Islam. Dan penghargaan Piagam Pelesatari Lingkungan dari Bupati Lombok Barat karena konsistensinya terhadap kegiatan konservasi hutan dan air di tahun berikutnya. Kini, setelah lebih dari 15 tahun ia meneggakkan prinsip man jadda wa jadda, melalui pendidikan untuk para santri dan santriwatinya, beberapa apresiasi pun ia dapatkan. Seperti Maarif Award tahun 2008, dan Ramon Magsaysay pada tahun 2011.

Menuangkan cerita novel kedalam audio visual film tentu bukanlah hal yang mudah. Dalam menggarap skenario film Negeri 5 Menara, M. Rino Sarjono dan Salman Aristo penulis skenario sekaligus produser film Negeri 5 Menara melakukan riset dan konsultasi mendalam dengan penulis novelnya, Ahmad Fuadi, secara intens. Film ini mengambil lokasi syuting di Pondok Modern Darussalam Gontor Jawa Timur, Sumatera Barat, Bandung, hingga London. Bahkan ijin dari pihak Pondok Modern Gontor baru keluar setelah Affandi Abdul Rachman (Fandi), sang sutradara – menggandeng Ahmad Fuadi untuk melakukan pendekatan dengan kyai di Gontor.

Syarat yang dilayangkan oleh pihak pondok itu hanya satu, yaitu shooting harus dilakukan selama bulan puasa, di mana para santri libur dan kembali ke daerahnya masing-masing. Casting tidak hanya dilakukan dalam pemilihan sutradara saja, tetapi juga pada pemeran tokoh-tokoh dalam film ini. Ada sekitar 3000 orang yang ikut dalam casting terbuka yang dilakukan di toko buku Gramedia dibeberapa kota besar di Indonesia selama tiga bulan. Proses casting pemain film ini memang dilakukan dengan secara serius.

Seperti misalnya, Lulu Tobing yang memerankan karakter Amak, ibunda dari Alif, pemeran utama dalam film ini. Lulu di-casting sampai tiga kali. Begitu pula dengan Ikang Fauzi yang memerankan Kyai Rais, dan beberapa aktris dan aktor papan atas Indonesia. Tak hanya aktor dan aktris, pemain baru pun juga dipilih dengan cermat. Ketika Fandi (sutradara) bertemu dengan pemeran utama Alif, Gazza Zubizzaretha (Gazza) – di Taman Ismail Marzuki. Walau dalam pertemuan pertama itu Affandi yakin bahwa Gazza cocok memainkan peran Alif, namun ia tetap meminta Gazza untuk melakukan proses casting.

Meski telah terjadi “director’s click” saat pertama kali Fandi lihat, tetapi Gazza yang asal Medan tetap melakukan proses casting dan pelatihan bahasa Minang. Film Negeri 5 Menara ini dilengkapi  dengan soundtrack film dengan judul Man Jadda Wa Jada yang digarap oleh musisi kawakan Indonesia, Yovie Widiyanto. Di bawah bendera perusahaan rekamannya sendiri Yovie Widianto Music Factory (YWMF), Yovie mempersiapkan kurang lebih 12 lagu, dengan single pertama yang berjudul Man Jadda Wajada, yang dibawakan oleh Yovie and Nuno. Beberapa penyanyi ternama ikut mendukung dalam album ini. Tak kalah seru, seluruh penonton Kick Andy yang hadir mendapat undangan gratis untuk hadir dalam pemutaran film ini.

Komentar Yang Sopan, Selalu saya Tunggu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s