Movie Review | Shutter Island



Teddy Daniels “Truth Worst? better live as monster or die as a good man”

Sebuah cerita yang hampir diangkat dari kisah nyata ini membuat saya terpukau ketika ketika memulai awal kisahnya. sekali lagi memasang aktor tenar Leonardo dicaprio membuat film ini memang sangat menakjubkan, namun seakan luput. Saya rasa ini adalah film yang pemilihan Cast aktor dan aktrisnya saya rasa pas semua. yang saya suka dari film ini adalah menonjolkan kondisi mental, mimik wajah, ketenangan, yang ditampilkan setiap aktor pemainnya terasa alami dan Bukan hanya leonardo dicaprio. Walaupun Setiap adegan membuat jantung merasa berdegup kencang. namun dengan orsi dan koreografi yang apik. Lalu bagaimana intriksnya? Simak Lebih Dalam!
Bercerita tentang Dua Kops Marshal polisi. Yang Akan Menyelidiki sebuah pulau yang bernama Shutter Island. Sebuah tempat dimana pasien Sakit Jiwa tingkat atas di poskan pada bangsal-bangsal sesuai kronis kejiwaanya. Kedua Kops inipun diminta untuk menyelidiki tentang seorang pasien yang kabur dari RSJ itu. Hal yang pertama dilakukan pastilah introgasi kepada pegawai RSJ tersebut. dirasa tidak mendapat bukti yang cukup, serta pegawai yang kelihatanya tutup mulut. Akhirnya Teddy (Lionardo Dicapro) Menyelidiki kasus tersebut sendiri bersama rekanya. namun ketika penyelidikan jauh masuk lebih dalam. Dia dihadirkan banyak konspirasi yang ternyata tertuju pada dirinya. entah konspirasi dirinya yang ternyata Gila dengan masa lalunya, Atau Konspirasi yang memang terjadi dengan RSJ Shutter Island Tsb. Simak Lebih Dalam Disini Bagi Yang Sudah pernah Nonton.

Berpasangan dengan Mark Rufallo. dengan chemistry, Dan Gaya yang harus diperankan. 100% chemistry yang terbentuk sangat alami. Padahal keduanya memiliki sifat yang sungguh berseberangan. dan harus terlihat tidak Couple. tapi entah dari tutur kata LD yang gak sok akrab. Malah menambah kesan kedua pasangan ini semakin solid. karena memang watak Chuck (Mark Rufallo) terlihat tenang. tapi bukan sembarang tenang. tenangnya itu tenang yang smart. tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. oh, ya! film ini juga dapat menggambarkan keklasikannya tanpa filter klasik khas seperti di Public enemies. dengan hanya tutur kata dan ekspresi khas 1900-an.

banyak twist yang dihadirkan dalam cerita yang based on novel ini. walaupun kelihatanya mudah ditebak alurnya. ternyata tebakan saya mungin banyak yang meleset seperti ketika opening, tujuan cerita yang sebenarnya (Ane Kira Nih, Film Action gan), Dan Endingnya yang super gak ketebak. Hampir berasa Inception karena mengusung permainan otak, tapi jauh Lebih deeper disini. tidak ada adegan sok, Humor, lucu. karena ini seriously film, tapi memang tetap asik. So Must Seeing Dulu. Wajib Kelas Dewa.

Sebetulnya saya itu ingin meriview sesuai dengan atmosfir filmnya. tapi sungguh akan sangat berbeda ketika anda melihatnya. serasa anda ingin menangis melihat nasib yang akan diterima LD. namun tangisan yang haru, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Dengan soundtrack end credit yang sangat pas setelah nonton film itu. Serasa Atmosfir yang sama pada saat dengerin end creditnya 127 Hours.Seraya imajinasi kembali memperlihatkan dan memikirkan apa yang sedang terjadi dan  selanjutnya terjadi?

Scoring lagu lawas yang dinyanyikan Dinah Washington – nature on a Daylight saya rasa memang sangat pas menggambarkan kondisi keseluruhan film ini.

Komentar Yang Sopan, Selalu saya Tunggu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s